RSS

Tetesan Keringat Bunda II

01 Feb

Bedug masjid berbunyi memecah kesunyian pagi, menggelegar bagai guntur membangunkan manusia yang masih terlelap, tak terkecuali Ibuku yang tak pernah (ku lihat) melaksanakan Sholat. Suara adzan mengumandang, mengalun merdu membuat mata melayang bagi manusia yang ingkar akan perintah sembahyang, seperti diriku yang masih mengharap ditimang. Entah apa yang muncul dalam benak ibuku waktu itu, kesulitan apapun yang ia hadapi aku tak bisa membantu. Disamping dengkur sang suami aku dititipkan, rengek dan tangisku tak lagi ia hiraukan.

Seutas tali bambu ia sandang dalam balutan kain selendang, pergi bergegas disertai lirih tangis sibuah hati semata wayang. Samara-samar suara tangisan, hilang ditelan pelukan ayah tersayang. Apa yang ibu lakukan?….

Terdengar seorang Ustad melantunkan ayat suci Al-Qur’an, dengan suara merdu penuh makna sebagai pedoman, dengan harapan ada bekas di hati segelintir santri. Aku tiada mengerti apa itu yang dibicarakan, apa yang dipelajari santri, tak ada yang pernah menjelaskan apa itu mengaji dan buat apa mengaji, aku hanya mengerti setiap pagi ibuku pergi dan kembali setelah matahari menyengat tubuhnya yang kering.

TERJAWAB TANPA KATA
Tak seperti biasanya pagi ini tersasa sepi, ibu duduk termenung ditepi balai. kutatap matanya penuh dengan harapan, tanpa aku sadari ibu tersenyum bangga. dilipatnya kain seragam sekolah dasar hasil perjuangannya, hari ini adalah hari pertamaku kesekolah. Seakan tak percaya kudengar penjelasan ibu, aku sangat sedih dan juga perasaan takut kalau ditinggal ibu saat aku sekolah nanti. Siapa yang menjaga ayam jantan kesayanganku si blirik?.. Seakan sekolah itu akan merengut ibuku mengingat beberapa hari yang lalu seorang pria besar berpakaian setelan (safari) datang kerumah menanyakan umurku.

Ditepi kampung yang sunyi, disini ibuku menanti seorang teman seperjalanan, sambil mengikat kayu bakar dengan tali bambu yang ia bawa dari rumah, seorang anak lelaki terdiam terpaku disampingnya. Tampak sebuah obor dari kejauhan semakin mendekat, para bakul (pedagan/tengkulak) Sayuran yang selalu jadi teman seperjalanan. Mereka hanya menggendong keranjang kosong berbekal uang untuk membeli dagangan dan pulang siang nanti dengan naik angkutan. Sungguh berat perjuangan sang bunda, pagi menjual kayu bakar, pulang dengan membawa uang limaratus rupiah.

Seorang anak lelaki berjalan gontai membawa sebilah potongan kayu bakar. Cuma sepotong namun sangat merepotkan, kadang di panggul, di sunggi (taruh diatas kepala) kadang Cuma ditenteng. Ia tidak menyerah walau sangat kerepotan, hanya sang bunda terlihat sangat keletihan dengan keringat membasahi sekujur tubuh kurusnya. sepasang mata berkaca-kaca sembari berkata, serahkan potongan kayu itu kebunda, biar bunda yang menanggung beban berat di pundakmu.

Lantunan kicau burung terdengar bak pujian kepada Illahi, menambah asrinya permukiman yang kulalui. Hari sudah terang, sudah setengah perjalanan ditempuh. Bunda meletakkan ikatan kayu bakar disamping sebuah sungai kecil seraya memerintahkanku hal yang sama. Dua kampung sudah dilalui, bunda mengusap keningku dengan air sungai sambil istirahat, sejenak. Disela gemericik air sungai mengalir bunda berkata, hari ini hari pertamaku sekolah, seberat apapun beban & rintangan didepan harus dilalui dengan lekas, agar aku tak ketinggalan masuk kelas.

Catatan: berkat kegigihan bunda aku pernah sekolah, dengan air mata bunda aku bisa membaca & berhitung, dengan tetesan keringat bunda aku bisa melangkah & menatap masa depan.

Trimakasih bunda …
wahai awan hitam, jadikan dirimu putih dengan menyampaikan salam sujudku untuk bunda. teteskan air matamu dengan lembut, berikan kesejukan untuk bundaku yang jauh disana…..

sumber ilustrasi gambar:
http://images.google.co.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2010 in Sejarah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: