RSS

Tetesan Keringat Bunda

26 Jan

Semua orang dihari tuanya nanti ingin menikmati hari2 yang yang penuh ketenangan sambil merenungi apa yang telah ia perbuat semasa masih muda dulu. Demikan juga dengan penulis, ingin melakukan sesuatu yang layak untuk direnungkan nanti dihari tua dengan harapan menjadi suri tauladan buat anak cucu nanti, agar generasi penerus tidak mengulang kesalahan yang pernah penulis lakukan.

Sepenggal kenangan penulis, lahir disebuah desa kecil 30 tahun silam, dipojokan kota Kab Semarang. Tidak memiliki pendidikan apapun, hanya tamat sekolah dasar, itupun ijazahnya hilang. Dengan keterbatasan seorang Ibu yang sabar aku hidup dengan tidak semestinya sebagai seorang anak pada umumnya, aku selalu tertinggal dalam segala hal termasuk dengan kebutuhan materi, bahkan figur seorang Ayah-pun tidak pernah aku dapatkan sebagaimana teman-teman sebaya.

Ayahku sudah lama menderita sakit jiwa, bahkan aku tidak pernah ingat kalau ayahku pernah sehat seperti seorang ayah pada umumnya. Rasa malu, kurang PD, dll sudah tak bisa aku rasakan lagi. Semua mengalir bak air sungai yang bermuara dilautan luas, semua tampak sama, tak ada tepi, tak ada ujung untuk aku singgah. Hanya suara derak ombak yang hanya bisa aku lihat, tak bisa aku pijak, semua hanya berlalu meninggalkanku terombang-ambing perlahan mengikuti arus. Hanya dengan air susu ibuku dan tetes-tetesan keringatnya aku bisa bertahan hari demi hari menghadapi terjangan ombak, angin dan hujan disertai kilatan petir.

Bagaikan menunggu dilahirkan kembali jika istilah Reinkarnasi itu benar. Seakan tupai meloncat satu pohon ke pohon yang lain, dari kota satu kekota yang lain. Semarang, Bedono, Ungaran, Bandung, Jakarta. sudah setengah umurku menunggu lemparan biji padi untuk menyambung hidup tanpa bisa menanam.

DIBALIK CERITA KEJAM
Jakarta tempatku bernaung sepuluh tahun terakhir, jauh dari orangtua, tanpa teman maupun saudara. Pembantu rumah tangga, tukang kebun & serabutan yang lain jadi kegiatanku mencari sesuap nasi. pertama aku menginjak kota Jakarta, rasa takut dan merinding menggelayuti pikiranku mengingat kejamnya kota Jakarta bisa menelan masa depan anak miskin yang lemah tanpa pendidikan. Memang Jakarta tempatnya fitnah, tipudaya dan kejahatan lain yang tidak layak untuk disebut. Menjadi korban fitnah, tipudaya dan tidur dikolong jembatan menjadi hal yang biasa dimanapun kotanya. kenyataan itu sering juga aku alami karna sebagai manusia kadang aku suka lupa diri. Kata pepatah, keledai tidak jatuh dilubang yang sama, pada akhirnya aku diterima bekerja sebagai OB disalah satu perusahaan swasta penyelenggara Haji & Umroh, alhamdulillah Ya Allah mudah-mudahan aku termasuk manusia yang pandai bersyukur.

Sekitar tiga bulan bekerja sebagai OB ada peningkatan sebagai staff tetap, Ya Allah, inikah jawaban Engkau yang hamba mohon setiap waktu??? Ya Allah Sang Pencipta Alam Semesta puji syukurku kepada-Mu Ya Allah, sampaikan Sholawat & Salamku kepada kekasih-Mu, Nabi sekalian alam Muhammad SAW. beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya ….

Tanggung Jawab staff Umroh & Haji yang bertugas menangani perlengkapan Jamaah, kini didepan mata. Jamaah Umroh hari demi hari silih berganti, tanpa terasa dua musim Haji telah aku lalui dengan peningkatan-peningkatan walau seidikit hingga akhirnya musim Haji yang akan datang sudah bisa aku petakan dan membuat programnya.

Prestasi diukir, jalan menuju Roma kian dekat. Tidak bosan dengan belajar, keberhasilanpun menunggu didepan mata. tugas Travel Dokumen mengurus visa menjadi amanah yang harus aku emban kini, seiring bergulirnya waktu aliran Jamaah Haji maupun Umrohpun kian meningkat. Kuota yang ditetapkan DEPAG-pun tak ayal jadi hal langka di travel ini, yang harus kita cari dari travel penyelenggara lain. Alangkah kayanya bumi Indonesia. manusia didalamnya berlomba-lomba, berpacu untuk pergi ke Baitullah yang memerluakan biaya sangat mahal, apalagi haji plus. bahkan tak jarang pula banyak yang pergi berulang-ulang. bagi orang yang berduit apakah harus pergi tiap tahun? wallahualam bishawab….

Catatan penulis:
Ibu trimakasih berkat do’amu, aku masih bisa bertahan sampai detik ini.
Ya Allah, ampunilah semua dosa Ibuku, tetapkan Ibu sebagai bidadari surga-Mu nanti. berikanlah umur panjang, berikan kesempatan agar aku bisa berbakti

Ayahku, berkat ayah aku jadi orang yang tegar, walau engkau tidak pernah secara langsung mendidikku, mungkin sudah kehendak Allah SWT agar aku bisa jadi orang yang senantiasa sabar dan tawakal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 26, 2010 in Sejarah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: