RSS

Daging Itik dan Permasalahannya

Membicarakan daging itik yang konon amis, alot dan keras, kami langsung teringat ketika harus menyantap sepiring lalapan nasi bebek di daerah Surabaya. Maklum di beberapa tempat di Surabaya memang menu lalapan nasi bebek menjadi menu andalan warung pinggir jalan. Harganya memang sedikit mahal akan tetapi kelezatannya sedikit bisa menyembunyikan harga yang sedikit mahal tersebut. Dari ukuran bagian tubuh itik yang di sajikan kami sedikit mengetahui bahwa daging yang diolah adalah daging itik afkir, tapi karena kepiawaian dari sang pedagang daging tersebut agak sedikit lunak daripada daging itik pada umumnya.

Daging itik umumnya mempunyai tekstur warna agak sedikit gelap jika dibandingkan daging ayam baik sebelum atau sesudah dimasak. Kandungan gizi daging itik adalah sebagai berikut : kalori 129 (kal), protein 20 (g), lemak 5 (g), besi 2 (mg), vitamin B 100 (IU), berbeda agak jauh pada sisi kandungan vitamin B pada daging ayam yang hanya sekitar 30 (IU).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan daging itik kurang menarik simpati masyarakat di Indonesia, antara lain karena selama ini variasi pengolahan daging itik yang bisa mengundang selera konsumen sangat terbatas jika dibandingkan daging ternak lainnya seperti daging sapi, kado (kambing dan domba), dan ayam. Harga daging itik sendiri juga relatif mahal dibandingkan ayam sehingga kurang menarik minat beli masyarakat. Apabila pengolahan daging itik ini bisa dikuasai oleh masyarakat kita maka kemungkinan masalah pemasaran daging itik akan sedikit terpecahkan.

Pada hakikatnya, kelunakan daging itik tidak terlepas dari komposisi daging yang terdiri dari sel-sel serabut otot, tenunan pengikat, dan lemak-lemak dalam struktur serabut otot. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai kelunakan daging ternak, antara lain :

1. Genetic
faktor keturunan menyebabkan lunak tidaknya daging
2. Umur
makin tua umur ternak, makin keras pula sel-sel serabut otot dan tenunan pengikat
3. Makanan
makanan tertentu dapat mempengaruhi nilai kelunakan daging ternak
4. Pemotongan
pemotongan yang baik dapat mempengaruhi nilai kelunakan daging ternak
5. Pemuliaan
dengan pemuliaan bisa diperoleh keturunan ternak yang memiliki daging dengan kelunakan tertentu.
6. Pengolahan
penggunaan enzim proteolitik dapat melunakkan daging ternak
7. Penyimpanan
penyimpanan dalam suhu tertentu akan mempengaruhi kelunakan daging ternak

Beberapa cara melunakkan daging ternak
Penggunaan enzin pelunak daging
Penggunaan enzim pelunak daging adalah cara yang paling sederhana dan praktis untuk kalangan ibu rumah tangga. Karena enzim tertentu dapat memecah jaringan pengikat pada daging, juga dapat dilakukan pada ternak yang masih hidup atau yang sudah dipotong. Sebenarnya masyarakat sudah lama mengenal cara tradisional untuk melunakkan daging, seperti penggunaan daun papaya untuk membungkus daging, penggunaan daun atau papaya muda untuk merebus daging, penggunaan nanas muda untuk memasak daging, dan peragian dengan menggunakan papaya muda atau nanas muda
Cara tradisional itu sesungguhnya memanfaatkan enzim papain dan enzim bromelin karena papaya atau daun papaya mengandung banyak enzim papain, sedangkan nanas banyak mengandung enzim bromelin. Jadi, secara tidak langsung masyarakat kita sudah memahami bahwa kelunakan daging bisa diperoleh dengan menggunakan getah-getah yang mampu mencerna, menghidrolisa atau memecahkan protein daging, baik sebelum pengolahan atau waktu pengolahan daging.

Bubuk pelunak daging
Bubuk pelunak daging bisa diperoleh di toko bumbu masakan Cina, biasanya digunakan di restoran karena sangat praktis dan dapat mempercepat pengolahan daging. Bubuk pelunak daging yang disebut “meat tenderizer” biasanya dihasilkan dari sisa industri pengalengan nanas, terutama bonggol nanas yang kaya akan enzim bromelin dibanding kulit atau buah nanasnya sendiri. Penggunaan bubuk pelunak daging dalam pengolahan mempunyai kelemahan, yaitu tidak bisa melunakkan daging secara sempurna. Bubuk ini hanya dapat melunakkan daging bagian luar, sedangkan bagian dalam masih keras. Lagi pula, proses pelunakan hanya bisa berlangsung pada suhu sekitar 60-70° Celsius
Pelunakan daging secara “antemortem”

Pelunakan daging antemortem pada hakikatnya adalah memberi perlakuan khusus pada ternak sebelum ternak di potong. Caranya, sebelum dipotong ternak diberi suntikan larutan enzim pelunak daging yang dimasukkan ke dalam vena jugularis (saluran darah). Secara teoritis, perlakuan tersebut berdasarkan pertimbangan :

 Aliran darah ternak yang masih hidup merupakan system distribusi yang paling sempurna, dapat membagi dosis darah dan enzim ukuran yang diharapkan
 Jantung ternak hidup dapat bekerja sebagai pompa yang mengalirkan larutan enzim yang disuntikkan merata ke seluruh tubuh
 Darah tidak dapat bekerja sebagai pengencer enzim
 Apabila sulit memperoleh bubuk pelunak daging, dapat dilakukan isolasi enzim pelunak daging yang praktis atau penyuntikan antemortem.

Cara mengisolasi enzim papain (papaya)
1. Ambil beberapa buah papaya muda dan bersihkan dengan air bersih
2. Kulit papaya muda dogores-gores atau ditoreh dengan pisau atau garpu
3. Tampung getah papaya yang keluar di atas piring bersih
4. Keringkan dengan sinar matahari
5. Enzim papain yang berbentuk kristal bisa dilembutkan dengan sendok sampai halus

Cara mengisolasi enzim bromelin (nanas)

1. Kumpulkan beberapa bonggol nenas kemudian cuci dengan air bersih
2. Bonggol nenas diblender atau diparut lembut
3. Parutan diperas dan disaring dengan kain yang berlubang lembut
4. Keringkan dengan sinar matahari
5. Enzim bromelin yang benbentuk kristal bisa dilembutkan dengan sendok sampai halus

Cara penyuntikan antemortem
1. 10 gram bubuk pelunak daging dicampur dengan 10 gram cairan pengencer gliserin
2. Campuran tadi dikocok rata hingga berbentuk pasta
3. Campuran berbentuk pasta kemudian dilarutkan dalam air suling (aquades)sebanyak 200 cc, kemudian dikocok sampai terlihat jernih
4. Bisa langsung digunakan dengan dosis 2 cc untuk setiap kilogram berat ternak yang akan dipotong

Untuk itu penyuntikan bisa dilakukan pada pembuluh di bawah sayap. Setelah penyuntikan dilakukan, itik bisa segera dipotong karena enzim proteolitik sudah cukup merata terbagi di seluruh jaringan daging. Namun, apabila itik tidak jadi dipotong, enzim tersebut tidak mempunyai pengaruh buruk bagi itik karena akhirnya enzim itu akan dikeluarkan lewat kotoran.

Daging ternak yang mendapat suntikan antemortem tidak mempunyai dampak negatif bila dikonsumsi sebab setelah proses pengolahan, enzim akan hancur. Namun, cara ini mengandung kelemahan yaitu organ itik seperti jantung, hati, dan ginjal menjadi terlalu lunak karena pengaruh enzim proteolitik
Pelunakan daging dengan penyuntikan postmortem

Penyuntikan postmortem adalah penyuntikan yang dilakukan pada karkas atau daging ternak yang sudah dipotong. Dosis yang digunakan boleh lebih banyak dan dapat disuntikkan pada bagian-bagian karkas tertentu yang kurang lunak. Selanjutnya karkas ditiriskan dengan posisi vertikal, sekurang-kurangnya 30 menit setelah ditiriskan karkas bisa dimasak.

Disarikan dari buku Mengelola Itik karya Bambang Agus Murtidjo dengan sedikit tambahan yang diperlukan dari team http://www.sentralternak.com

Sumber : http://www.sentral ternak.com

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2010 in Artikel Ternak

 

TERNAK AYAM KAMPUNG

Berbicara masalah kandang untuk ayam kampung mungkin masalah yang masih asing bagi kita, maklum system pemeliharaan ayam kampung selama ini masih bersifat umbaran (ekstensif). Yaitu ayam kampung dibiarkan tidur di mana saja yang penting masih terlihat pulang ke rumah. Padahal kalau kita sedikit meluangkan waktu untuk memperhatikan masalah kandang ayam kampung maka tidak mustahil banyak sisi manfaat yang akan kita dapatkan. Karena mau diakui atau tidak kandang memegang peranan penting sebagai penyebab timbulnya penyakit dan penyebaran penyakit.Pada peternakan-peternakan dengan model semi intensif atau intensif, kandang ayam kampung sudah mendapat perhatian khusus. Mereka sudah pelajari dan sadar akan pentingnya fungsi kandang untuk ternak mereka seperti halnya arti pentingnya rumah untuk tempat tinggal kita. Apakah kita akan bisa merasa nyaman, enjoy, dan menghasilkan karya terbaik kita di rumah yang kumuh, berdebu, berbau, tidak aman atau bahkan di rumah yang tanpa atap? Ternak kita pun sama, mereka akan demikian dan sebaliknya mereka akan mampu menampilkan produksi terbaiknya kalau kandang yang mereka tempati bersih, nyaman, bersih, udaranya segar, aman dan terlindung dari semua hal yang bisa membahayakan bagi ternak itu sendiri.Di antara syarat kandang yang baik untuk pemeliharaan ayam kampung antara lain :

1. Terpisah dengan daerah permukiman penduduk minimal 10 meter
2. Lantai kandang diusahakan lebih tinggi dari tanah sekelilingnya agar kandang selalu kering dan bersih
3. Kandang tidak lembab dan bocor, sehingga perlu mengganti atau menambah litter secara periodik
4. Sinar matahari diusahakan bisa masuk, untuk itu diupayakan kandang dibangun membujur dari arah Barat-Timur
5. Bahan kandang yang digunakan cukup melimpah ketersediannya dan harganya pun murah
6. Sirkulasi udara cukup baik, lancar dan segar sehingga mampu mengusir bau tidak sedap amoniak atau lainnya
7. Kandang dibangun mengacu kepada standar kepadatan kandang yang ideal
8. Penyucihamaan kandang dan peralatannya dilakukan secara periodik

Kandang untuk pemelihraan ayam kampung dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, ada kandang untuk umur 1-20 hari, 21-40 hari, 41-60 hari, 61-90 hari dan kandang untuk isolasi. Berikut kami uraikan sedikit tentang kandang ayam kampung sesuai tingkat umur pemeliharaan :

Kandang untuk umur 1-20 hari
Kita mungkin lebih sering menyebutnya dengan istilah kandang bok, karena bentuknya kotak, semua sisi tertutup rapat kecuali bagian atas. Bagian atas dibiarkan terbuka atau bisa juga ditutup dengan bilah-bilah bambu dengan jarak 2 cm. Sedangkan bagian bawah terbuat dari kerangka dari bilah bambu lalu dialasi dengan kardus atau kertas semen. Ukuran bok yang dibuat sangat fleksibel yang penting mengacu pada efisiensi bahan dan kepadatan kandang. Bok kalau memungkinkan bisa dilengkapi dengan kaki setinggi 20-25 cm. Kepadatan kandang yang dianjurkan untuk kisaran umur ini adalah 1m2 untuk 40-45 ekor dan bisa dikurangi 5 ekornya tiap minggunya. Pemeliharaan DOC di kandang bok mutlak memerlukan lampu penghangat atau yang biasa disebut pemanas (brooder). Suhu dalam kandang bok diusahakan antara 30-32ºC atau dengan melihat penyebaran anak ayam dalam kandang bok. Kalau anak ayam menyebar merata berarti suhu sudah pas (ideal), kalau menggerombol di bawah lampu pemanas berarti kedinginan dan kalau menjauhi sumber panas berarti suhu kepanasan. Dan alangkah baiknya kalau kita merancang model kandang bok yang mudah diangkat dan dipindahkan ke tempat lain (portable).

Kandang untuk umur 21-60 hari
Para peternak di Jawa Timur (Malang, Mojokerto, Kediri, Jombang, Blitar, Tulungagung, Surabaya) biasanya menerapkan pemeliharaan untuk ayam kampung untuk tujuan pedaging hanya sampai umur 60 hari sehingga kandang ini adalah kandang terakhir untuk pemeliharaannya sebelum ayam di panen. Ada dua model kandang yang digunakan oleh peternak pada fase ini yaitu peternak yang masih menggunakan bok seperti pemeliharaan sebelumnya dan peternak yang memilih menggunakan kandang bentuk postal (litter). Kandang postal adalah kandang dengan alas tanah yang dicampuri sekam padi, kapur dan pasir. Kedua model tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang penting pada masa pemeliharaan ini adalah masalah kepadatan kandang (carrying capacity) yaitu 1m2 untuk 30-35 ekor dan berkurang 5 ekor setiap minggunya sehingga pada umur 60 hari per m2 hanya cukup 7-10 ekor saja.

Kandang Isolasi
Kandang ini berfungsi sebagai kandang karantina (isolasi) terhadap ayam-ayam yang menunjukkan gejala sakit, luka karena saling patuk, atau mungkin ayam yang sudah terserang penyaikt tertentu. Penempatan ayam pada kandang isolasi ini harus memperhatikan faktor penyebab ayam. Jangan menempatkan ayam yang luka karena saling patuk dengan ayam yang terkena penyakit kolera atau lainnya. Dengan adanya kandang isolasi ini diharapkan keadaan ayam akan pulih dan semakin membaik kondisinya seperti sedia kala. Yang penting dalam pembuatan kandang ini adalah penempatan kandang. Kandang isolasi sebaiknya ditempatkan terpisah dan jauh dari kandang ayam sehat.

sumbernya : http://www.sentralternak.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2010 in ayam kampung

 

SEUNTAI HARAPAN

Seuntai Harapan
dari KALIMALANG

Senin 3 Mei 2010

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 5, 2010 in Kisah Sukses

 

KOLAM TERPAL

Membuat Kolam Terpal Pendederan Ikan Patin
Ditulis oleh Newsroom
Selasa, 04 Mei 2010 04:30

kolam terpal untuk budi daya ikan patin sebetulnya tidak sulit. Apalagi bagi Anda yang sebelumnya sudah pernah melakukan budi daya lele dumbo di kolam terpal. Prinsip dan cara pembuatannya sama. Hal yang perlu dipertimbangkan justru seberapa besar jenis usaha yang akan dilakukan. Apakah mau bergerak di subsistem pendederan, subsistem pembesaran, atau subsistem pendederan sekaligus dilanjutkan dengan subsistem pembesaran.

Pembuatan kolam terpal untuk pendederan I dan II relatif sama. Bedanya pada penempatannya saja. Kolam terpal untuk pendederan I biasanya ditempatkan di dalam ruangan tertutup, sedangkan kolam terpal untuk pendederan II ditempatkan di areal terbuka. Untuk itu, perancangan dan penyiapan kolam terpal pendederan I harus disesuaikan dengan kondisi dan luas ruangan yang tersedia. Berikut urutan kegiatan pembuatan kolam terpal untuk pendederan I.

1. Siapkan delapan buah kayu jenis kaso yang telah diserut, dengan perincian empat buah kayu dipotong berukuran 2 meter dan sisanya 1 meter. Potongan kayu kaso ini digunakan untuk menyatukan semua tiang, sehingga membentuk kolam empat persegi panjang. Untuk menyatukan semua kerangka tadi, gunakan paku berukuran 7—9 cm. Agar plastik tidak langsung bersentuhan dengan tanah, sebaiknya posisi bak ditinggikan 5 cm dari tanah.

2. Rapatkan bambu ke semua kerangka dinding dan dasar kolam menggunakan paku. Namun, usahakan bambu tidak pecah.

3. Setelah selesai, pasang plastik terpal secara hati-hati agar tidak ada yang bocor. Rapatkan terpal ke dalam dan dasar kerangka, lalu lipat bagian sudutnya. Namun, pemasangan harus rapi agar tidak ada plastik yang mengerut.

4. Agar posisi plastik tidak berubah-ubah, jepit terpal menggunakan bilah bambu di bagian atas dinding kerangka. Setelah selesai, isi bak dengan air sebanyak dua per tiga dari total tinggi bak, lalu diamkan selama sehari. Jika terjadi kebocoran yang tidak terlalu besar, penanggulangannya dapat dilakukan dengan menambal terpal menggunakan lem plastik. Namun, jika tidak terjadi kebocoran, kolam terpal bisa digunakan.

Setelah semuanya selesai, Anda tinggal melengkapi seluruh persiapan budi daya, mulai dari bibit, pakan, peralatan pendukung, dan tentu saja ilmu yang mencukupi. Pembekalan wawasan sangat diperlukan sekali dan sangat menunjang kesuksesan usaha budi daya patin.

Jika Anda masih kekurangan informasi seputar budi daya patin. Anda bisa mendapatkannya di dalam buku yang kami terbitkan, “Petunjuk Praktis Budi Daya Patin di Kolam Terpal” yang ditulis oleh H. Khairuman SP & Khairul Amri SPi, MSi.

Di dalam buku ini dibahas secara rinci, praktis, dan mudah dipahami tentang membangun usaha budi daya patin mulai dari tahap pembuatan kolam, persiapan, perawatan, hingga pemanenan. Selamat berkarya!

http://www.agromedia.net

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2010 in Artikel Ternak

 

USAHA TERNAK ITIK DI BREBES


Melimpahnya produksi telur asin di Brebes tak terlepas dari banyaknya sentra peternakan itik di wilayah ini. Di Brebes tercatat 1.778 peternak itik yang tersebar dan bergabung di lebih dari 10 Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI). Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan peternak unggas lain, seperti peternak ayam petelur yang 246 orang ataupun peternak ayam pedaging yang hanya 99 orang.
Beberapa sentra ternak itik di Brebes yang terkenal adalah Desa Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes, tahun 2004 meraih predikat sebagai KTTI terbaik tingkat nasional. Banyaknya jumlah peternak itik menjadikan Brebes sebagai salah satu sentra peternakan itik di Jateng. Setiap tahunnya, lebih dari 100 juta telur diproduksi di peternakan-peternakan telur di Brebes. Populasi itik di wilayah ini mencapai 889.000 ekor.
Banyaknya warga Brebes yang menggeluti profesi sebagai peternak itik tak terlepas dari keuntungan yang bisa dihasilkan dari kegiatan ini. Dengan modal yang tidak terlalu besar dan perawatan yang mudah, seorang peternak itik pemula (satu tahun) rata-rata bisa mendapat Rp.50.000 sampai Rp.150.000 per hari. Bahkan apabila jumlah itiknya di atas 1.000 ekor sanggup meraup keuntungan Rp.300.000 per hari.
Tidak jelas kapan usaha peternakan itik tumbuh di Brebes. Sejumlah peternak mengatakan, budidaya itik di Brebes sudah cukup lama. Awalnya dulu sangat sederhana. Itik digembalakan di persawahan dan sungai oleh para petani di tengah kesibukan bercocok tanam. Orang Brebes sebenarnya sudah cukup lama beternak itik. Kalau dulu hanya sebagai sambilan, pekerjaan utama tetap bertani. Seiring makin banyaknya industri rumah tangga di Brebes yang memproduksi telur asin sekitar tahun 1990-an, pasaran telur itik di wilayah ini pun terkatrol. Para peternak terpacu meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah jumlah dan memperbaiki manajemen peternakannya.
Kegiatan beternak itik lambat laun menjadi kegiatan ekonomi utama dibandingkan dengan bertani. Bahkan, tak sedikit petani yang menjadikan lahan pertaniannya, terutama lahan bawang merah, untuk dijadikan areal peternakan itik. Ini seperti dilakukan oleh 30 orang peternak itik yang tergabung dalam KTTI Sumber Pangan Desa Gandasuli, Kecamatan Brebes, yang secara bergotong-royong membangun sentra peternakan di bekas lahan bawang merah sejak tahun 2000 silam. Hal ini mereka lakukan karena beternak itik lebih menjanjikan daripada bertani bawang maupun padi. Selain risikonya kecil, keuntungan ekonomi yang diperoleh lebih stabil dan eraltif lebih besar. Ketika mereka menjadi petani bawang merah, walaupun harganya bagus, sekali panen memang untung sangat besar. Namun, biaya perawatannya juga besar. Selain itu, belakangan ini harga bawang merah jatuh akibat banyaknya bawang impor. Kalau beternak itik, risiko-risiko semacam itu tidak ada. Harga telur memang naik turun, tetapi lebih stabil dibandingkan harga bawang. Risikonya hanya pada harga pakan yang mahal.
Selain adanya kemudahan pasar, peternak itik di Brebes juga diuntungkan oleh banyaknya sungai kecil yang mengalir di wilayah ini, terutama di daerah utara. Sungai-sungai memudahkan peternak menggembalakan dan memberikan air minum bagi itik.
Keberadaan sungai sebenarnya tidak mutlak, namun apabila ada itu sangat membantu. Itik yang digembalakan akan lebih mudah bertelur karena tidak gampang stres dan lemaknya terbakar. Keuntungan lain yang dimiliki peternak itik, daya tahan itik dari serangan penyakit cukup tinggi, termasuk flu burung yang kini menghantui para peternak unggas di Indonesia. Ini tak terlepas dari faktor bawaan (carrier) itik yang memang memiliki kekebalan terhadap serangan virus tersebut.
Kematian itik di Brebes akibat serangan virus flu burung jarang sekali, khususnya apabila dibandingkan dengan jenis unggas yang lain. Dua tahun terakhir tidak pernah ditemukan kasus tersebut.
Modal beternak tidak terlalu besar. Kebutuhan utama adalah membeli anak itik atau yang biasa disebut dengan meri yang harganya Rp.750 sampai Rp.1.000 per ekor. Biasanya, pada kesempatan pertama peternak membeli 300 sampai 500 ekor meri. Sudah menjadi patokan para peternak itik di Brebes, untuk memperoleh untung jumlah ternak yang dibudidayakan minimal 400 ekor. Jika jumlah ternak hanya 300 ekor maka impas. Namun apabila jumlahnya 400 ekor, sudah ada keuntungan yang diperoleh meski tidak besar.
Diperlukan waktu enam bulan bagi anak itik untuk tumbuh menjadi dewasa dan siap bertelur. Minimal 60 persen dari itik yang dipelihara akan bertelur setiap hari. Bahkan, apabila musim sedang bagus dan itik tidak stres, persentase bertelurnya dapat mencapai 80 persen. Artinya, jika jumlah itik yang dipelihara 600 ekor, telur yang dihasilkan setiap harinya antara 350 butir sampai 500 butir.
Di KTTI Sandang Pangan, setiap peternak memiliki 500 ekor sampai 1.500 ekor itik. Kandang-kandang para peternak KTTI itu berada dalam satu kompleks yang dipisahkan dengan kerangkeng bambu. Satu kandang disekat menjadi dua bagian, yakni tempat makan dan tempat bertelur. Sekat itu diberi satu pintu untuk pergerakan itik.
Bangunan kandang pada umumnya terbuat dari bambu. Sebagian kandang ada yang beratap genteng sederhana, sebagian lagi ada yang hanya berupa alang-alang atau daduk. Hal seperti itu juga terlihat di hampir semua sentra peternakan itik di Brebes. Kandang sederhana tidak menjadi masalah, yang terpenting adalah rutin dibersihkan. Sebagai contoh analisis laba rugi usaha ini, Haryanto peternak itik di Desa Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes memiliki 600 ekor itik dikandangnya, dengan produksi 350 butir sampai 400 butir telur setiap hari. Dengan harga telur itik saat ini berkisar antara Rp.700 sampai Rp.800 per butir, dalam sehari Haryanto memperoleh hasil sekitar Rp.300.000. Penghasilan kotor itu dikurangi pembelian pakan dan obat-obatan sekitar Rp. 150.000. Dengan demikian, dalam sehari Haryanto mendapat keuntungan bersih Rp.150.000.

Sumber : http://budidayaitikentog.blogspot.com

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2010 in Artikel Ternak

 

MEMPRODUKSI PUPUK ORGANIK DARI KELINCI

Kelinci adalah hewan mamalia kecil pemakan rumput. Ukuran kelinci sebesar kucing. Hewan ini bertelinga panjang dan berkaki belakang juga lebih panjang serta lebih kuat dari kaki depan. Karenanya cara berjalannya dengan melompat-lompat mirip kangguru. Di Indonesia, dikenal dua jenis kelinci, yakni kelinci jawa (Lepus negricollis) dan kelinci sumatera (Nesolagus netscheri Schlegel). Kelinci jawa sebenarnya keturunan dari kelinci eropa (Lepus europaeuns) yang masuk ke Jawa sekitar tahun 1800an dari India. Sementara kelinci sumatera merupakan hewan asli (endemik) pulau Sumatera. Selain itu masih dekenal pula adanya kelinci timur tengah (Oryctolagus cuniculus). Kelinci yang banyak dipelihara masyarakat, sebenarnya sudah tidak terlalu jelas lagi jenisnya, sebab merupakan campuran dari kelinci jawa, kelinci eropa maupun kelinci timur tengah. Untuk memperoleh galur asli, diperlukan adanya “pemurnian” dengan cara perkawinan sejenis sampai dengan 8 generasi. Namun untuk keperluan produksi pupuk organik, tidak terlalu diperlukan faktor genetik. Sebab hasil utama yang diharapkan adalah kotorannya, sementara daging dan kulitnya merupakan hasil sampingan. Faktor genetik ini menjadi penting pada pemeliharaan kelinci unggul (misalnya jenis Rex) untuk memproduksi kulit dan bulu bermutu tinggi.
Dengan pemeliharaan intensif, satu pasang kelinci dewasa dalam jangka waktu 1 tahun akan beranak sebanyak 4 kali. Sebab masa bunting kelinci sekitar 31 hari (1 bulan) dan masa menyusuinya 58 hari (2 bulan). Setelah selesai menyusui induk betina akan siap kawin lagi. Sekali beranak, kelinci akan menghasilkan keturunan antara 4 sd. 8 ekor atau rata-rata 6 ekor dengan rasio jantan betina 50% X 50%. Anak kelinci akan siap untuk kawin pada umur antara 6 sd. 7 bulan. Kalau kita membeli kelinci dara siap kawin, maka pada bulan I kelinci betina akan bunting dan melahirkan 6 ekor anak pertama. Bulan II dan III menyusui. Bulan IV induk betina kembali bunting dan melahirkan 6 ekor anak kedua. Bulan V dan VI menyusui, bulan VII bunting lagi dan melahirkan 6 ekor anak ketiga. Bulan VIII dan IX kembali menyusui. Bulan X kawin lagi dan bunting serta melahirkan 6 ekor anak keempat. Bulan XI dan XII menyusui lagi. Demikian seterusnya. Sementara anak I sebanyak 3 ekor merupakan betina yang pada bulan VIII sudah bisa kawin dan masuk masa bunting. Bulan IX 3 ekor anak betina itu melahirkan 18 ekor “cucu”. Bulan X dan XI menyusui dan bulan XII bunting lagi. Tiga ekor anak kelahiran II, pada bulan XI sudah mau kawin dan bunting, hingga bulan XII lahirlah 18 ekor “cucu” dari anak kedua. Demikian seterusnya. Dengan pemeliharaan intensif demikian, sepasang kelinci jantan dan betina dewasa siap kawin, setelah satu tahun akan menghasilkan 24 ekor anak dan 36 ekor “cucu”. Hingga total, populasinya menjadi 62 ekor.
Rumus tersebut hanya berlaku untuk pemeliharaan intensif dengan kandang baterai (kandang individu). Hingga masa kawin, bunting, melahirkan dan menyusui benar-benar bisa diprogram sesuai dengan jadwal. Lain halnya dengan pemeliharaan sistem koloni. Baik dengan kandang postal (seluruhnya tertutup, tanpa tempat terbuka untuk umbaran) maupun kandang ren (sebagian tertutup sebagian terbuka sebagai umbaran). Dengan sistem koloni, masa kawin dan menyusui akan berjalan secara alamiah. Paling banyak, satu induk betina hanya akan bunting dan melahirkan sebanyak 3 kali dalam setahun. Jumlah anak rata-rata tetap 6 ekor. Tetapi anak yang siap kawin, bunting dan melahirkan, bukan yang I dan II melainkan hanya anak I. Hingga jumlah populasi setelah satu tahun pemeliharaan adalah 18 ekor anak dan 18 ekor “cucu” atau total populasinya 38 ekor. Harga eceran sepasang kelinci “kampung” siap kawin saat ini sekitar Rp 50.000,- Untuk memproduksi pupuk organik, disarankan menggunakan kelinci kampung. Bukan ras yang harga bibitnya mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per pasang. Pembuatan kandang postal maupun ren, harus disiapkan untuk jangka waktu minimal 1 tahun. Dalam arti mampu menampung sekitar 40 ekor kelinci hasil pemeliharaan semi intensif tersebut. Idealnya, bahan kandang merupakan barang-barang bekas hingga biayanya bisa ditekan sekitar Rp 50.000,- sd. Rp 100.000,- Yang penting, kandang tersebut cukup kuat serta aman, hingga kucing, anjing atau binatang pengganggu lainnya tidak bisa masuk.
Untuk memproduksi pupuk organik, sistem pemeliharaan yang dianjurkan adalah semi intensif (koloni) baik dengan kandang postal maupun ren. Sebab dengan cara ini sisa-sisa rumput akan bisa menumpuk dalam kandang dan secara alamiah akan mengalami pengomposan. Tiap 1,5 bulan, tumpukan sisa-sisa rumput itu dibalik, sambil diurai. Pada pembalikan kedua, sisa-sisa rumput yang telah terfermentasi dengan baik dan telah menjadi pupuk organik, bisa diambil. Pupuk baru ini belum bisa langsung dipergunakan untuk memupuk tanaman karena proses pengomposannya masih belum sempurna. Untuk itu perlu dilakukan penumpukan di tempat lain lagi hingga terjadi proses pengomposan lanjutan. Tinggi tumpukan maksimal 1 m. Pada proses pengomposan yang benar, akan terjadi pemanasan di bagian dalam tumpukan. Suhu di bagian ini bisa mencapai 40° sd. 50° C. Panas disebabkan oleh proses penguraian selulosa oleh bakteri aerob (bakteri yang pertumbuhannya memerlukan oksigen). Proses penguraian oleh bakteri aerob tidak menimbulkan bau. Pupuk organik disebut sudah “matang” apabila sisa-sisa rumput benar-benar lapuk hingga mudah dihancurkan dengan cara diremas menggnakan tangan. Pupuk organik yang dihasilkan dari kandang postal/ren ini, berasal dari sisa-sisa rumput dan kotoran yang tercampur urine, hingga volumenya cukup besar.
Pada pemeliharaan intensif dengan kandang baterai dan sistem individual, pupuk organik yang didapatkan hanya berupa kotoran murni campur urine. Sebab pakan yang diberikan berupa hijauan terpilih, silase (hijauan yang diawetkan) atau konsentrat yang tidak meninggalkan sisa. Lantai kandang baterai biasanya berlubang-lubang hingga bisa meloloskan seluruh kotoran dan urine ke arah bawah. Di bawah kandang dipasang plastik yang akan menampung kotoran serta urine tersebut, lalu mengalirkannya ke dalam wadah (ember plastik) sebagai penampung. Di sini, kotoran tidak mengalami fermentasi seperti halnya pada pemeliharaan di kandang postal/ren, melainkan mengeluarkan gas methan (biogas). Dengan teknologi yang sangat sederhana, sebenarnya gas ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Volume pupuk yang dihasilkan dari kandang baterai sangat kecil, tetapi mutunya jauh lebih baik. Penggunaan pupuk organik kotoran kelinci dari kandang baterai, harus dengan terlebih dahulu dicampur air. Perbandingannya 1 : 20 (1liter kotoran dimasukkan ke dalam 20 liter air). Kalau campuran masih terlalu pekat, misalnya 1 : 10, tanaman yang dipupuk justru akan mati. Sebab kandungan N (Nitrogen) dari urine sangat tinggi hingga pupuk tersebut justru akan menghanguskan tanaman. Lebih-lebih kalau yang dipupuk tanaman semusim. Karena kualitasnya yang cukup tinggi, pupuk kelinci dari kandang baterai ini sangat cocok untuk budidaya tanaman yang nilai ekonomisnya juga cukup tinggi. Misalnya paprika, brokoli, stroberi dll.
Di atas telah disebutkan bahwa produksi pupuk organik dari kelinci, idealnya menggunakan sistem pemeliharaan semi intensif secara koloni di kandang postal/ren. Sebab pada pemeliharaan intensif/individual di kandang baterai, biayanya akan terlalu tinggi. Baik biaya bibit, kandang, pakan maupun tenaga kerja. Sebab tujuan pemeliharaan sistem ini bukan untuk memproduksi pupuk, melainkan daging dan kulit. Padahal tujuan utama pemeliharaan kelinci kali ini adalah untuk membuat pupuk organik. Hingga biaya harus ditekan semurah mungkin agar produk yang dihasilkan bisa bersaing. Pakan yang kita berikan sebaiknya berupa rumput atau hijauan limbah pertanian yang nilainya nol. Biaya pengambilan juga kita nolkan sebab bisa dilakukan oleh anggota keluarga secara sambilan. Kalau ke dalam kandang kelinci itu tiap hari rata-rata kita masukkan 10 kg. rumput atau hijauan lainnya, maka sekitar 7,5 kg. akan menjadi pupuk. Dalam 1 tahun akan dihasilkan 2.737.5 kg. pupuk organik. Pupuk tersebut bisa kita jual dengan harga Rp 250,- per kg. Hingga nilai pupuk organik kotoran kelinci tersebut adalah Rp 250,- X 2.737,5 = Rp 684.375,- Harga pupuk kandang kotoran sapi maupun kambing di tingkat peternak, saat ini sekitar Rp 100,- sd. Rp 150,- per kg. Pupuk kelinci bisa dihargai lebih tinggi dari pupuk kambing/sapi karena kualitasnya yang lebih baik.
Pendapatan pupuk organik tersebut kita peroleh dari pemeliharaan kelinci dengan sepasang induk pada tahap awal. Selain pupuk organik masih ada pula hasil berupa 38 ekor (dewasa + anak) kelinci, dengan harga jual eceran Rp 10.000,- per ekor atau total Rp 380.000,- Kalau kita start awal dengan 10 pasang, maka hasil akhir kelinci yang diperoleh adalah 380 ekor dewasa + anak dengan nilai Rp 3.800.000,- Volume pupuk organiknya 27.375 dengan nilai Rp 6.843.750,- Yang menjadi masalah adalah, menjual kelinci jantan (betinanya akan terus diternak), tidak semudah menjual ayam atau itik. Kecuali di kota-kota kecamatan di Jawa Tengah. Karenanya, harus dicari upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Seorang peternak marmot, pernah mengeluh karena populasi ternaknya telah mencapai ribuan ekor. Akhirnya dia mengkombinasi ternak marmotnya dengan peternakan ular. Nilai jual ular (terutama untuk diambil kulitnya) ternyata jauh lebih menguntungkan dibanding dengan harga marmot tersebut. Apabila kita kesulitan menjual kelinci hidup, bisa saja dipotong dan dikuliti. Kulit kelinci banyak dicari oleh para perajin. Sementara dagingnya bisa dikonsumsi oleh ikan carnivora dengan nilai jual tinggi. Misalnya gabus, belut atau sidat.

Sumber : http://foragri.blogsome.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Wisata

 

PAKAN ALAMI DALAM BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR

Budidaya ikan air tawar sekarang telah menjadi sebuah kegiatan agribisnis yang tak terpisahkan dengan industri pakan ikan. Hingga ikan mas, lele, nila (mujair), bawal air tawar, patin (pangasius), gurami dan terakhir yang sedang trend adalah udang galah; semuanya sangat tergantung pada pakan buatan industri besar. Pakan ikan air tawar tersebut sebenarnya sama dengan pakan untuk unggas, yang di kalangan peternak/petani ikan dikenal dengan nama pelet. Kisaran harga pelet, saat ini antara Rp 2.000,- sd. Rp 3.000,- per kg. Komponen biaya pakan dalam budidaya ikan air tawar mencapai 70% dari seluruh komponen biaya. Hingga petani ikan yang ingin meningkatkan keuntungannya, pertama-tama harus melakukan penghematan pada komponen biaya pakan.
Cara penghematan pakan ikan, selama ini dilakukan oleh petani dengan berbagai cara. Gurami diberi pakan hijauan berupa daun keladi (sénţé). Sampai sekarang, pemilik empang di pedesan Jawa Barat dan Jawa Tengah, masih memanfaatkan tinja sebagai pakan tambahan bagi ikan mas piaraan mereka. Meskipun ikan dari empang demikian dengan WC umum demikian, volumenya sangat kecil hingga tidak pernah sempat masuk pasar. Para peternak lele dan patin, biasa meramu pakan sendiri dari dedak halus, ampas tahu, tepung tapioka, tepung jagung dan daging ayam mati dari peternakan. Bahan tersebut dicampur, diberi air, digiling, ditambah vitamin dan dikukus. Bahan-bahan lain seperti pupa (kepompong) ulat sutera, cacing, siput, bekicot dll. juga mereka manfaatkan untuk bahan pakan tambahan.
Para petani tambak bandeng, selama ini sudah terbiasa memanfaatkan plankton yang mereka sebut “klékap” sebagai bahan pakan alami bagi bandeng mereka. Proses penumbuhan plankton harus dilakukan dengan pengeringan kolam, empang atau tambak. Pengeringan biasanya dilakukan sekalian dengan pengerukan lumpur yang digunakan untuk memperkuat dan marapikan tebing serta pematang. Proses pengeringan ini bisa berlangsung antara 1 minggu sd. 1 bulan, tergantung intensitas sinar matahari. Fungsi pengeringan selain untuk proses penumbuhan plankton, juga agar hama dan bibit penyakit ikan mati. Terutama penyakit akibat bakteri dan virus. Sebab air yang tergenang terlalu lama, potensial untuk menumbuhkan plankton, sekaligus juga virus dan bakteri pengganggu ikan. Para petani tambak biasa menggunakan tembakau dan biji teh untuk membunuh bakteri, virus dan hama lain pengganggu tambak.
Selain pengerukan lumpur, kalau perlu juga dilakukan pencangkulan dan pembajakan dasar kolam. Setelah kolam benar-benar kering dan rapi, ditaburkan pupuk kandang dan urea. Dosisnya seperti kalau menanam padi. Misalnya pupuk kandangnya 5 ton per hektar dengan urea 1 sd. 2 kuintal. Untuk lebih meningkatkan kesuburan air kolam, bisa ditambahkan pula zat perangsang tumbuh (ZPT) seperti Atonik atau Dekamon. Setelah itu tambak digenangi air. Kalau tambak air payau, maka yang digenangkan air tawar (dari sungai) dicampur dengan air laut. Kalau kita akan memelihara ikan air tawar, maka air yang digenangankan hanya air tawar. Selanjutnya kolam atau tambak dibiarkan terkena sinar matahari sampai menjadi hijau. Proses ini bisa berlangsung dari satu minggu sampai satu bulan, tergantung dari intensitas sinar matahari dan tingkat kesuburan air.
Kolam yang sudah hijau ini telah dipenuhi dengan ganggang (algae) yang oleh masyarakat luas sering disebut salah (salah kaprah) sebagai “lumut” . Ada banyak ragam algae, mulai dari ganggang biru (Cyanophyta), ganggang hijau (Chlorophyta), ganggang cokelat (Dinophyceae), ganggang kuning (Chrysophyceae), ganggang merah (Rhodophyceae) dan ganggang kersik (Diatomeae). Hingga sebenarnya, warna air yang subur, akan sangat tergantung dari jenis algae yang tumbuh di sana. Namun pada umumnya yang paling banyak tumbuh di kolam ikan adalah ganggang hijau. Selain ditumbuhi algae, kolam yang subur juga akan dihuni cacing, jentik nyamuk, larva capung, kumbang air, kepik, kutu air dll. Kumpulan algae dan macam-macam hewan renik (mikro) inilah yang di kalangan peternak ikan disebut sebagai plankton.
Kesuburan kolam demikian, akan tetap terjaga apabila aliran air tidak cukup deras. Apabila aliran air cukup deras, maka algae dan macam-macam hewan renik itu tidak akan mampu tumbuh dengan baik hingga membentuk koloni. Misalnya di kolam air deras. Bahkan pemeliharaan ikan di karamba, baik karamba sungai, danau, waduk maupun laut, juga sulit untuk memanfaatkan pakan alami berupa algae dan hewan renik. Sebab air dalam karamba merupakan satu kesatuan dengan seluruh volume air dalam kali, danau, waduk atau laut. Pemeliharaan ikan dalam karamba di danau Toba yang sangat luas itu pun, telah mengakibatkan ekosistem perairan alam menjadi rusak. Sebab jumlah karamba dan populasi ikan tidak pernah dihitung dengan baik, hingga memenuhi syarat maksimal daya dukung danau tersebut. Akibat banyaknya karamba di danau Toba, kotoran ikan serta pakan yang tidak termakan mengendap di dasar perairan, membusuk dan mencemari air danau.
Rekayasa air untuk memproduksi pakan alami dalam budidaya ikan, hanya bisa dilakukan pada kolam, empang atau tambak yang debit airnya bisa diatur. Debit yang konstan ini akan mengakibatkan pertumbuhan plankton menjadi optimal. Namun juga ada bahayanya apabila debit airnya sangat kecil. Pada siang hari algae, terutama ganggang hijau, akan memproduksi oksegen yang cukup banyak bagi kebutuhan seluruh ikan atau udang dalam tambak tersebut. Tetapi pada malam hari fotosintesis terhenti. Padahal algae itu pada malam hari juga memerlukan oksigen meskipun dalam volume yang sangat kecil. Akibatnya pada malam hari kolam, empang atau tambak tersebut akan kekurangan oksigen. Lebih-lebih kalau padat penebarannya tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, para petambak dan petani ikan memanfaatkan kuncir air untuk meningkatkan ketersediaan oksigen. Selain dengan kincir air, untuk mengatasi kekurangan oksigen ini bisa dilakukan pula penambahan debit air apabila sumbernya memungkinkan. Apabila tidak mungkin, bisa dilakukan rotasi dengan menggunakan pompa serta filter.
Meskipun kita telah berhasil meningkatkan kesuburan air kolam secara optimal, namun pemeliharaan ikan dengan memanfaatkan pakan alami 100%, juga tidak akan ekonomis. Sama tidak ekonomisnya dengan apabila kita hanya mengandalkan pakan buatan 100%. Sebab apabila yang dipelihara ikan carnivora, seperti lele, gabus, patin dll, maka mereka akan kanibal. Hingga populasi ikan akan meyusut dengan sangat drastis. Contohnya adalah pemeliharaan belut di dalam bak atau drum yang diberi lumpur, batang pisang, pupuk kandang dll. hingga tingkat kesuburannya sangat tinggi. Ke dalam bak tersebut kemudian kita lepaskan 100 ekor anak belut, tanpa kita beri tambahan pakan apa pun. Setelah tiga bulan bak atau drum itu dibongkar, maka yang tersisa hanya sepasang belut jantan dan betina. Belut lain sudah saling makan hingga yang tinggal hanya dua ekor itu saja. Lain halnya kalau ke dalam bak atau drum belut itu tiap tiga hari sekali kita benamkan bangkai ayam, bebek atau telur-telur yang tidak menetas yang telah direbus terlebih dahulu. Dalam jangka waktu hanya dua bulan, 100 ekor anak belut itu sudah akan berubah menjadi belut dengan ukuran satu jari orang dewasa dan gemuk-gemuk.
Ke dalam kolam yang paling subur sekalipun, sebaiknya tetap perlu ditambahkan pakan alami lain. Bagi ikan-ikan karnivora, perlu diberikan cacing, bekicot, bangkai ayam dll dalam volume yang sesuai dengan populasi ikan yang ditebar. Kalau yang dipelihara ikan-ikan herbivora, misalnya gurami, maka perlu ditambahkan daun-daunan dalam jumlah cukup. Pakan alami ini selain mampu meningkatkan keuntungan karena bisa mengurangi kebutuhan pakan pabrik, sekaligus juga akan meningkatkan kualitas daging ikan. Gurami yang hanya diberi pelet misalnya, kualitas dagingnya akan lembek dan kurang padat. Dengan dipelihara di kolam yang subur, dengan pakan tambahan berupa daun keladi, maka kualitas dagingnya akan makin padat. Kualitas daging ikan ini akan berpengaruh pada harga jual produk akhirnya berupa ikan konsumsi.
Pada pemeliharaan udang galah misalnya, tingkat kesuburan kolam akan sangat berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan dan konversi pakan. Namun khusus dalam pemeliharaan udang galah, terutama dengan tingkat penebaran tinggi, penggunaan tali, misalnya tali rafia yang direntangkan di seluruh kolam, akan meningkatkan produksi. Sebab kebiasaan udang agak berbeda dengan ikan. Udang tidak biasa berenang melainkan merayap. Di alam, udang akan merayap pada tumbuhan air, akar tanaman dll. Tanpa adanya tanaman air, udang hanya akan merayap pada dasar kolam. Aktivitas udang dengan populasi padat di dasar kolam itu, akan mengakibatkan tingginya tingkat kanibalisme. Dengan adanya tali-tali yang terentang di kolam, maka tingkat kanibalisme bisa diturunkan. Dengan kolam yang kesuburannya optimal, maka hewan renik dan algae akan ikut mempercepat pertumbuhan udang. Selain pakan buatannya bisa dihemat, kualitas daging udangnya juga akan lebih baik.
Pada ikan-ikan karnovora, misalnya belut, pencegahan kanibalisme bisa dilakukan dengan menaruh buluh bambu atau potongan pipa PVC (pipa pralon) di sepanjang pinggir kolam. Ikan-ikan karnovora seperti belut, sidat, lele dan gabus akan senang bersembunyi di buluh bambu atau potongan pralon tersebut, hingga tingkat kanibalismenya akan turun. Kalau suplai cincangan cacing. bekicot atau bahan hewani lainnya cukup, maka kolam yang subur tersebut akan mampu mempercepat pertumbuhan ikan karnivora mencapai optimal. Kecuali lele dan patin, ikan karnivora seperti gabus, betutu, sidat dan belut agak sulit untuk mengkonsumsi pelet. Karenanya, kolam yang subur dengan suplai pakan tambahan berupa limbah pemotongan hewan menjadi mutlak diperlukan.
Sumber : http://foragri.blogsome.com

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Artikel Ternak